
Humaniora Digital dan Disiplin Ilmu Sejarah
Artikel ini membicarakan seputar Humaniora Digital dan kaitannya
Kami tidak memungut biaya apapun dari artikel yang kami muat, namun operasional dan perawatan situs ini tetap memakan biaya. Jika anda berkenan, bantu kami dengan berdonasi, agar kami tetap bisa memberikan konten dan artikel yang bermutu secara mandiri.
Humaniora Digital dan Disiplin Ilmu Sejarah
Pada dekade terakhir ini, humaniora digital semakin marak diperbincangkan.
Pada akhirnya, humaniora digital hanyalah satu dari sekian banyak pendekatan humaniora.
Dewasa ini, pendekatan multidisipliner mendapatkan perhatian yang semakin besar. Tidak hanya santer diperbincangkan di ruang-ruang diskusi, namun juga dalam penelitian-penelitian yang riil dari perguruan-perguruan tinggi dan lembaga riset. Pusat-pusat studi humaniora digital bermunculan di banyak perguruan tinggi terkemuka di dunia.
Lalu apa sebenarnya humaniora digital? Humaniora digital atau Digital Humanities adalah sebuah pendekatan baru yang mengedepankan penggunaan teknologi dalam melakukan penelitian humaniora. Walaupun baru santer terdengar pada dekade terakhir, humaniora digital sebenarnya telah muncul sekitar tahun 60-an. Dahulu bernama Komputasi untuk Humaniora atau Computational Humanities, bentuk penerapannya bermacam-macam. Sebenarnya penerapannya bukanlah hal baru dalam dunia penelitian humaniora, bahkan secara tidak sadar sudah diterapkan oleh peneliti-peneliti humaniora. Paling tidak sejak komputer mulai menjadi standard baru sebagai alat mengetik laporan-laporan penelitian. Pasalnya, penggunaan teknologi semacam itu sudah merupakan penerapan Humaniora Digital dalam bentuknya yang paling sederhana.
Disiplin Ilmu Sejarah beririsan dengan hampir seluruh disiplin ilmu. Ketika saya masih kuliah saya kerap mendengar kelakar, semua ilmu ada sejarahnya.
Seorang sejarawan ekonomi tentu familiar dengan angka-angka statistik. Penggunaan software SPSS contohnya, membuka banyak sekali kemungkinan dan kemudahan analisa.
Pemanfaatan teknologi digital semakin kompleks. Mengetik di word processor sudah menjadi standard baru.
Penggunaan peta dalam
Di berbagai ruang kuliah, secara konsensus diamini bahwa Ilmu Sejarah membutuhkan satu unsur: Imajinasi. Di satu sisi, imajinasi ini dibutuhkan bagi sejarawan untuk memperoleh gambaran akan masa lalu. Sebagai contoh, seorang sejarawan bisa menceritakan bagaimana jalur perdagangan rempah di Nusantara dapat dihubungkan dari Malaka ke pesisir timur Sumatera, kemudian terus ke selatan sampai Selat Sunda. Dari Selat Sunda jalur perdagangan ini diteruskan ke sepanjang pesisir utara Jawa hingga ke Madura. Dari Madura jalur ini diteruskan ke Sulawesi.
Sayangnya, imajinasi adalah sesuatu yang subjektif. Begitu pula cara sejarawan menulis kerap sulit dicerna oleh pembaca awam. Membaca teks-teks tulisan sejarawan tahun 40an bisa berbeda hasilnya pada setiap orang.
Pemanfaatan teknologi digital menjadi semakin kompleks lagi ketika peneliti yang bersangkutan familiar dan terlatih dengan teknologi digital itu sendiri. Penggunaan Text Mining, GIS, dan rekonstruksi digital tidak hanya mengandalkan imajinasi yang subjektif.
Betul adanya bila humaniora digital dapat memberikan banyak manfaat dan membuka kemungkinan-kemungkinan yang tadinya tertutup bagi kajian humaniora. Pemanfaatan alat-alat digital bukanlah satu-satunya yang dapat memberikan kebaruan dalam studi humaniora. Ia hanyalah satu dari sekian banyak pendekatan yang dapat diterapkan dalam kajian humaniora.
Studi humaniora, khususnya sejarah, cenderung identik dengan kajian-kajian yang deskriptif dan kualitatif. Sejatinya, kemampuan seorang sejarawan untuk merekonstruksi masa lalu, kemudian memberinya tafsir-tafsir baru pada dasarnya membutuhkan kemampuan menulis deskriptif dan kemampuan analitik yang kuat. Inti dari sebuah kajian sejarah adalah penjelasan sejarah. Dengan demikian penjelasan tersebut berupa tulisan yang deskriptif kualitatif. Humaniora digital dapat membantu sejarawan membentuk penjelasan tersebut, bisa juga membantu untuk memberikan bentuk yang lebih mudah dicerna.